Tepatnya tanggal 7 Des ‘07, abis maen dari tempat mb Vit yang waktu itu lagi hamil. Pas pulangnya mampir di warung mie ayam (ohh mie ayam selalu menjadi bagian terpenting dalam hidupku :). Saat itulah si dia mengemukakan idenya untuk membina rumah tangga (ceile), seharusnya lamaran itu romantis ya, tapi kalo ga salah waktu itu beliau cuman mengatakan ” Kita kapan ya?”. Dan seterusnya lah obrolan itu mengalir, mencari waktu yang tepat untuk lamaran resmi dan lain lain, sampai seketika diriku menyadari sesuatu..” Ko tadi kamu ga nanya aku mau apa ga?Ko langsung cari tanggal?”. “Lhoh, lha mau kan?” jawabnya. Ya iya juga si, dah telat kali nanya mau apa ga, hehehe…
Setelah itu, kami berdua mencari tanggal yang baik. Tanggal baik menurut kami adalah tanggal yang cantik, hari ahad or sabtu, setelah trimester 1 berakhir (karena aku sendiri masih was was ama nilai, mau konsentrasi di trimester satu :p), dan setelah si dia menyelesaikan urusannya. Dan terpilihlah tanggal itu, 060708 (6 Juli 2008). Pertama kali si dia yang nemu nih. Increment, semoga begitu juga dengan kualitas hidup dan keimanan kami, semakin bertambah seiring waktu (ceilee…ngepas pasin aja si niy).
Ketika aku memberi tahukan hal ini ke ibunda yang waktu itu sedang menunaikan ibadah haji, ternyata pada waktu bersamaaan ibunda memang sedang mendoakan hal tersebut bagi putrinya, semoga segera dipertemukan jodoh dan bisa membentuk keluarga sakinah. Haduh, jadi terharu..Tapi sempet salah sangka juga sih, dikiranya kami berdua pengen merit 3 hari berturut-turut, tanggal 6-8 Juli..Hihihi
Singkat cerita, ini beberapa hal persiapan yang kami lakukan sekarang..
Gedung
Biasalah orang jawa, tanggal baik itu mesti dicari dengan perhitungan weton perempuan dan laki-laki yang akan menikah. Apalagi waktu itu almarhum mbah kung ada di rumah dan yang nyari tanggal baik itu beliau, bukan apa-apa kalo aku si, cuman ga enak ma orang tua, dikira ga menghormati. Karena tarik ulur tentang tanggal ini -kami pengennya tanggal 6-7-08 tapi ternyata hari baik bukan di hari itu-, pemesanan gedung jadi agak telat. Ternyata pas fix tanggal 6-7-’08, gedung yang diinginkan sudah penuh, hwaa…padahal waktu itu baru bulan februari kalo ga salah. Kemudian pilihan jatuh di gedung Giri Cahaya, pilihan keduanya masjid At Taqwa yang ada di depan kabupaten. Tapii..secara pribadi ku lebih suka gedung aja, sepertinya tempatnya lebih leluasa. Kesimpulannya, gedung itu harus segera dipesan dan difixkan, ga masalah kalau nanti dibatalkan, ini terutama untuk kota yang tidak terlalu banyak pilihan gedung :p
Seragam dan Souvenir
Ini urusan bunda tercinta, jauh-jauh hari sudah “menyicil” beli seragam buat keluarga, calon besan, dan para among tamu. Kalau ibuku nih, seragam buat satu sama lain beda warna beda jenis. Keluarga yang udah ibu-ibu dapet warna orens, yang masih muda dapet pink, yang among tamu dapat coklat dan sebagainya. Kalau menurutku sih mungkin lebih praktis kalau satu jenis dan satu warna. Tapi ya terserah ibunda saja. Begitu juga dengan souvenir, urusan ibunda saja. Hwe hwe
Baju Pengantin dan Kerudung
Sepertinya baju pengantin ini urusan paling ribet. Berhubung diserahkan padaku maunya apa (padahal diriku paling susaaah kalau suruh milih), urusan baju ini jadi lama. Awalnya mau bikin aja, baik resepsi maupun akad. Kebetulan untuk kebaya resepsi, salon yang dipesan ibu bersedia bikinin kebaya sesuai keinginanku, nanti jadi properti salonnya gituw. Langsung deh, nyari model di internet. Situs favorit kemarin www.weddingku.com, cari kebaya di bagian portfolionya salon2 kalau ga salah. Banyak banget model yang bisa dilihat di situ dan disave, walaupun harus pake printscreen untuk copy paste karena ga ada fasilitas savenya. Teruus, selain dari internet cari model kebayanya dengan beli majalah anggun! berhubung dari bulan maret belum keluar lagi ya akhirnya hunting majalah anggun di shopping. Untuk kebaya akad, nyontek di anggun yang waktu itu kovernya Dini Aminarti. Tapii untuk kebaya resepsi setelah dilihatin ke ibu ternyata beliau kurang suka dengan pilihanku, alesannya lengannya kelihatan dikit (ya walaupun dalamnya pakai kaos dalam atau furing si). Jadi ga PD dehh. Kebetulan di rumah ada majalah perkawinan yang khusus Kebaya. Cantik-cantik modelnya. Karena merupakan beberapa koleksi dari desainer ternama. Akhirnya dipilih lah satu model untuk dijadiin kebaya resepsi.
Perjuangan belum akhir. Walaupun udah dimasukkin ke penjahit kalau untuk resepsi rasanya kurang yakin kalau bikin sendiri. Pengennya nyari yang udah jadi aja (udah bisa dilihat dan dicoba gitu). Maka hunting kebaya resepsi pun dimulai. Nyobain di salah satu salon solo udah, hmm bagus sii cuman kayaknya kurang gimanaa gitu, mungkin karena baru sekali nyoba (masa langsung dapet siy??). Lalu liat-liat butiknya Agus di sriwedari. Hmm belum cocok juga. Bilqis? Ga ada kebaya. Al Fath? Bisa sih pesan..Tapi akhirnya diputuskan untuk hunting di yogya dengan si dia yang setia menemani kemana mana. Mulai dari butik Widyawati (temen bikin kebaya resepsi disini), butik Mujib Affandi -kalau ga salah nama si- di jakal, sampai butik Alma Riva di jetis sana. Dan juga Karita, Al Fath, Annisa..hehehe Baguuussss si..Tapi untuk di butik mahal-mahal bo, untuk kebaya 4-7 juta kayaknya sayang banget deeh. Fiuhh..Abis itu buat apa coba? Kalau di Karita dkk juga sekitar 4 juta. Hmmm…
Abis itu alternatif kedua hunting salon deh, sapa tau bisa nyewa. Dari salon mba Maya di sleman sana (referensi mb mona n ini salon yang dandanin reni pas wisuda juga), salon ME di gejayan (kalau ga salah ini referensi mb vita), sampai Dior di jalan wonosari (ini salonnya Rika, pokoknya semua referensi temen didatengin satu-satu :p). Ternyata, jarang salon bisa nyewain baju tanpa riasan, padahal kan aku riasan udah pesen ama temennya ibu, ga enak kalau mau ganti, apalagi kalau musti pake riasan dari jogja nanti nambah biaya transport, menginap, dan opportunity cost si perias dan krunya. Jatuhnya bisa jauh lebih mahal. Lagian, sepertinya belum menemukan kostum yang cocok di hati..Hweee
Hunting ini berakhir di salah satu salon di solo, yang notabene saudaranya tetangga. Tempatnya di depan SD Muhammadiyah 2. Menurutku sih ini baju yang paling mirip dengan yang kuinginkan (saking udah capeknya mungkin). Warna krem emas. ada buntutnya hihihi. Apalagi boleh disewa tanpa riasan. Sekarang si kadang masih sambil nyari, tapi selama blom ketemu lagi ya sementara yang di solo itu difixkan aja
Kerudung pengantin? Naaahh, ini juga bagian paling seru. Berhubung si dia maunya model kerudung yang ga “penthol” untuk akad, aku sibuk deh nyari referensi. Situs favorit? Flickr.com! Berbagai poto baik resepsi pernikahan maupun akad asal mempelai wanitanya berkerudung yang diupload disini pasti aku save. Haha. Begitu juga dengan FS, ngubek ubek buat nyari model kerudung pengantin. Lalu sempet nemu kreasi kerudung melayu yang memang dadanya tertutup, sementara mungkin itu.
Untuk resepsi, pas liat poto-poto pengantin berjilbab di salon temennya ibu itu ternyata pake jilbabnya tapi ko leher keliatan sih? Pastinya si bisa request dan bisa komplen pas didandanin ya, tapi bikin was was juga. Haduww..nanti aku didandanin gimana nih? Trus, liat poto-poto pengantin di bagian belakang majalah anggun, ko jadi ngerasa ga ada model yang bagus ya? Ko jadi paranoid gini?Hahaha..Alhamdulillah, di tempat sewa kebaya pengantin itu juga nyediain kru buat masang jilbab, sementara ini difixin ini dia yang masangin. Tapi jujur aja sih, belum sreg tuh, selama masih ada waktu searching terus degh modelnya. Hari ini juga sempet nanya ke Karita. Jadi Karita ini juga menyediakan pasang kerudung pengantin, asal pengantinnya yang datang ke salon. Kalau mau manggil ke rumah, minimal 5 orang yang untuk dipasangin kerudung. Untuk kerudung pengantin harga pasangnya 160rebu/ orang. Pas liat-liat portfolionya tadi lumayan sih, simple dan manis. Walaupun kelihatannya cuman main di bandana aja.
Undangan
Ehem..Ini juga urusan yang diserahin ke kita (Calon pengantin .red). Awalna mau bikin sendiri. Kata si dia pengen bentuknya setengah bunder (kayak huruf D?), jadi kalo undangan dibuka bentuknya bundar. Hahaha. Tapi untuk orang tua dipilih yang agak resmian. Kemarin ku bawain ke rumah contoh undangan dari Rik, trus juga banyak(ga cuman beberapa) contoh undangan dari Reni (THx Renren). Dari contoh itu, ortu milih yang mereka inginkan. Ternyata cetak undangan di tempatku jauh lebih murah dari tempat lain. Tapi hasilnya belum tau karena belum jadi. Hmm..Jadi was-was juga nih. Dan berhubung urusan kami berdua masih banyak, ditambah pertimbangan jumlah undangan kami cuma 1/8 jumlah undangan ortu, akhirnya kami memutuskan untuk “nebeng” model undangan ortu. Hehehehe. Bagi mereka yang pengen desain undangan sendiri, mungkin perlu dipersiapkan jauh-jauh hari.
Seserahan ama tempat tinggal belom bisa diceritakan karena emang belom..Hehehe. Persiapan terakhir sementara ini adalah bikin pasfoto buat buku nikah. Kemarin kita foto di Fresco, Colombo. Waktu kita foto nih, ditanya ama fotografernya,
“Foto buat nikah ya?”.
“Iya mas..”
“Sendiri-sendiri apa berdua..?”
“Hah, masa berdua? ”
“Iya, ada yang biasanya foto berdua gitu kalau buat nikah..” (duduk bareng resmi gitu kali ya)
Hah, aneh banget si..Tapi mungkin ada juga yang mensyaratkan seperti itu ya. Tapi untuk kami si setelah ditanyain ke bapak katanya emang foto sendiri-sendiri aja. Ini hasilnya. Hehehe.. Mirip ga ya satu sama lain..?